Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

SYUKUR & TERKABUL #7

  HIJAU, Elang Rimba tengah jatuh cinta kepada betina jauh di belantara, menuang rindu hangat kedalam mangkuk pelukkan. sekarang Khayal dan harap elang rimba. (“)             Kami hanya   punya waktu satu minggu untuk menyelesaikan projek ini, kompetisi cerpen tingkat provinsi dan pemenang akan menuju Jakarta untuk ikut ke tingkat nasional. Aku dan Hussein menjadikan puncak inspirasi itu sebagai bestcamp, tempat mencari ide dan menulis cerpen, aku bertugas mengarang jalan ceritanya dan Hussein bertugas menuangannya kedalam bentuk tulisan, kerjasama yang tepat menurut kami. “ketika ikhlas tak ada yang tidak enak”, kata Hussein. (…) Berbincang bersama ay menjadi kegiatan yang paling ku tunggu dan kusukai. Tak ada 2 jam setelah magrib yang terlewat, melalui telpon atau hanya sekedar chatting, tak ada perubahan dari ay, caranya padaku. ia tetap seperti gadis yang menangis di hari senin 5 tahun yang lalu. “rainboo...

ay im coming #6

  HIJAU, keterpaksaan, adalah kebebasan inginnya. Berpisah, adalah bertemu harapnya. Dan Berjumpa, adalah waktu syaratnya. Jadi bersabarlah untuk sebuah pelukkan hangat. (Pelangi rasa)”   (“) "Selamat pagi ay, ini pagi minggu”, tulisku untuk ay di whatsapp. Beberapa menit, tuing (sebuah pesan   whatsapp masuk) “pagi rainboo, iya aku tengah bersiap – siap. Di sini sedikit berbeda dengan disana, kami harus pergi lebih pagi karena ada banyak kendaraan yang hendak memakai jalan juga, macet maksudku hehe”. “hehe, iya ya? Lebih baik kamu bersiap dulu, jangan sampai tertinggal” “iya sudah selesai rainboo, ini sudah di mobil, hehe”. ay mengirimkan sebuah gambar. “ay siapa anak kecil bersamamu? Wajahnya tak asing” “dia adikku, Margaret yang sering memberimu permen cokelat. Sekarang ia sudah besar” “sudah besar, aku hampir ga ngenalin. dia lebih cantik dari kakak nya. Hehe” “iya iya, aku juga tahu” “becanda aja, hehe. Ay?” “iya rainboo? Sebentar lagi kayak...

PUISI ay (2015)

Gambar
  JARAK, namun dekat HARAP, namun tak bisa ingin ku mengirim surat, pada pencipta, aku dan rasa. pada pencipta, ia dan rasanya. kupu -kupu keluar dari kepompong menghisap bunga yang pertama, rasanya akan berbeda juka harus mencari lain bunga. aku adalah kupu - kupu  ia adalah bunga itu, adalah pagiku,siangku, malamku, kami bersama. KUPU - KUPU & BUNGA.  ketika kuputuskan ia adalah milik ku, sekelompok lebah merebutnya. ternyata ia adalah untuk mereka. ada yang membuat ku tak mampu memaksa, bukan karena tak berdaya dibanding mereka. namun, pencipta yang memutus kami tak kan bisa, Bersama. Ay, 2 Sept 2015 "tuhan & ia"

AWAL JUMPA #5

Gambar
  KUNING, semua yang telah memutuskan pergi tanpa mengabari adalah keterpaksaan dan itu adalah rasa yang paling menyulitkan. Beberapa hati tak sanggup, hanya pemilik yang kuat yang tak tumbang di saat demikian. (…) aku berpegang dipagar berkarat itu, menarik leherku melihat keadaan didalam, pintu rumah ay terbuka tak ada gongongan piok yang ada hanya tangisan anak kecil dari dalam rumah. “permisi, om, tante? Ini aku rimba” (tak ada jawab) “permisi”                            “iyaa, waallaikumsallam, sebentar ” jawab dari dalam rumah. Aku kebingungan mendengar jawaban dari dalam rumah, keluarga ay tidak menggunakan jawaban itu, seperti ada yang aneh. Fikir ku,   Tiba – tiba keluar seorang perempuan berkerudung dari dalam rumah. “iya , ada perlu apa?” Tanya perempuan itu. “(aku terdiam), ibu siapa?, bukannya ini ru,” “oh iya, ini ...