SYUKUR & TERKABUL #7
HIJAU, Elang Rimba tengah jatuh cinta kepada betina
jauh di belantara, menuang rindu hangat kedalam mangkuk pelukkan. sekarang
Khayal dan harap elang rimba.
(“)
Kami hanya
punya waktu satu minggu untuk menyelesaikan projek ini, kompetisi cerpen
tingkat provinsi dan pemenang akan menuju Jakarta untuk ikut ke tingkat
nasional.
Aku dan Hussein menjadikan puncak inspirasi
itu sebagai bestcamp, tempat mencari ide dan menulis cerpen, aku bertugas
mengarang jalan ceritanya dan Hussein bertugas menuangannya kedalam bentuk
tulisan, kerjasama yang tepat menurut kami. “ketika ikhlas
tak ada yang tidak enak”, kata Hussein.
(…)
Berbincang bersama ay menjadi kegiatan yang
paling ku tunggu dan kusukai. Tak ada 2 jam setelah magrib yang terlewat,
melalui telpon atau hanya sekedar chatting, tak ada perubahan dari ay, caranya
padaku. ia tetap seperti gadis yang menangis di hari senin 5 tahun yang lalu.
“rainboo, gimana perasaanmu setelah melihat ku
sudah tidak ada di danau waktu itu?”
Tanya ay pada ku.
“aku sempat mengira kalau kamu tenggelam di
danau”
“hei, sudah ku duga. Hehe” ay tertawa.
‘tapi ay, aku benar – benar takut waktu itu.
Untung ada bapak – bapak yang melihat sewaktu kamu pergi, darinya lah aku tau”.
“sebenarnya aku juga ga enak pergi begitu
saja waktu itu, tapi ayahku menjemput dengan sangat mendadak dan aku tak
mungkin bisa menunggu mu sampai dengan selesai sholat waktu itu”.
“kenapa ayahmu menjemput mendadak ay sampai
dengan kamu harus pindah ke jakarta?”
“ada banyak hal yang belum bisa ku ceritakan
rainboo”
“iya ay, aku mencoba mengerti”
“rainboo, bagaimana sekolahmu? Ada banyak hal
yang kau temui di sekolah baru? Ada seorang gadiskah yang kau kenal?”
“sekolah ku baik ay, ada banyak yang kutemui, lebih dari 500 orang
setiap harinya. Gadis yang ku kenal hanya bendahara kelas”
“bukan itu maksud ku rainboo, seorang gadis
special yang seperti ku mungkin, hehe”
“seperti mu? Aku tak tau ay, semua gadis disekolah ku tampak disiplin tiap kali
upacara semua membawa atribut dengan lengkap, jadi ga ada kesempatan untuk
kenalan”. Aku menahan tawa.
“rainboooooo, aku tau maksud mu”.
“hehe aku hanya becanda”
“ga , ga ada lucunya becanda mu”
“iya, maaf”
“ga mau”
“okeh, aku bantuin makan tumis sayur ibu mu”
“setuju” heheh kami berdua tertawa.
“ rainboo, aku harus tidur”.
“ok ay, malam”
“malam, eh rainboo kamu harus tidur”.
“kenapa?”
“biar adil”
‘iya aku akan tidur, setelah 20 menit’
“janji ya?”
“iya janji”
“iya rainboo, aku tutup ya”.
“iya ay”
(...)
Begitulah, 2 jam.57 menit di malam ku, hehe.
“hallo sen?’
“hallo man, siap”
Kami melanjutkan garapan untuk tiket Jakarta.
Aku dan Hussein hampir menyelesaikan cerpen
kami, setiap hari mencari ide di bukit inspirasi, berkeliling kota kecil kami,
aku dan Hussein sangat bersemangat untuk tiket Jakarta, kami adalah elang
dengan arah sama namun dengan tujuan berbeda.
Hussein adalah sahabat bagiku, ada banyak hal
yang kami pecahkan bersama bukan hanya perihal tiket Jakarta namun lebih dari
itu. Aku fikir Hussein sefrekuensi dengan ku.
“sen, bagaimana jika kita gagal?”
“udah, yang kemarin ku bilang ga usah
menyiapkan kegagalan”
“ini bukan menyiapkan sen, tapi bersiap”
“untuk apa bersiap – siap sekarang?, mending
kita fikirkan bagaimana cara menghabiskan uang jajan ku hari ini, heheh”. Kami
tertawa, begitulah Hussein dia selalu optimis untuk semua yang dia lakukan.
Hussein adalah anak kedua dari tiga
bersaudara, dia anak laki laki kedua setelah abangnya. Orang tua Hussein adalah
orang – orang karier, ibunya seorang dokter di rumah sakit kota dan ayahnya
adalah seorang pembisnis. Adiknya di
pesantren, abangnya jauh di jerman, bekerja. Tak jarang Hussein sendiri di
rumah, jika orang tua nya terpaksa harus tidak pulang, pernah waktu itu aku
diajak kerumahnya, ternyata serba ada bukan lah hal yang sangat luar biasa, aku
tahu itu dari Hussein. Namun, serba syukur adalah segalanya, kata Hussein ia
bisa punya apa yang ia mau, kecuali satu, makan malam bersama ayah,ibu,abang
dan adiknya. Aku sangat bersyukur atas apa yang ku punyai sekarang, mak, bapak
dan kesederhanaan kami.
Saat itu aku memutuskan akan menjadi sahabat
Hussein, bukan Karena hal lain namun karena merasa ia adalah orang yang bisa
memberikan banyak pengajaran, sahabat yang senantiasa tak merugikan dan tak
dirugikan,aku merasa butuh itu.
Bukan karena finansial atau lain hal, hanya
karena kesetiaan dan keikhlasan. Intinya
sahabat yang apa adanya, apa yang benar di dukung dan yang keliru harus di
dibenarkan, ga ada yang namanya ga enakan, “losss enak intinya man, heheh (Hussein)”.
(…)
Hari ini adalah H-1 aku dan Hussein berangkat
ke provinsi mewakili sekolah untuk mempresentasikan cerpen hasil kerja keras
kami. Kami memutuskan untuk istirahat hari ini agar esok akan lebih fit, kami
diskusi bagaimana untuk presentasi depan juri via whatsapp.
(…)
“peserta
cipta cerpen nomer 10, silahkan mempresentasikan cerpen miliknya”
Kami dipanggil, bismillah Hussein dan aku optimis dan berserah
apapun hasilnya kami akan tetap elang yang akan senantiasa terbang. Ini kata
Hussein hehe.
Kami mempresentasikan kepada dewan juri
disaksikan peserta lain dan para pendamping. Hari itu sangat menguras rasa,
rasa takut. Yah begitulah, ini untuk ay dan aku sangat bersemangat.
Pengumuman pemenang akan disampaikan kepada
sekolah setelah dua hari perlombaan, dua hari Hussein Nampak sangat berfikir
tak jarang ia menanyakan pada ku, “eh yang peserta nomer 8 itu bagus ga sih
man?, yang peserta 02 itu kayaknya lumayan bagus kan?, oh iya cerpen kita
kemarin ada typo ku tulis di bagian koda” semua isi obrolan whatsapp adalah
tentang lomba cerpen, aku tak tahu kenapa dia berharap sekali bisa kejakarta
dengan lomba ini padahal hanya untuk kejakarta adalah hal mudah bagi Hussein.
Ya, hari ini adalah sekelimat pesan dari
provinsi yang akan disampaikan kepada sekolah, “anda gagal” atau “anda
berhasil”. Pertama kali aku melihat Hussein tak nafsu dengan semangkuk mie
sedap nya, heeh. Mukanya gilaa tegang parah jika ku bayangkan sekarang rasanya
tak mau berhenti tertawa.
“sen? Kenapaa heheh?”
“ga , lanjut makan sana”
“mana nih Hussein yang senantiasa optimis,
kenapa ilang?” aku tertawa.
“apasih man, aku ga enak badan jadi mie nya
rasa hambar” husein berdalih demikian.
“sen sen, santai ikhlas kan?”
“yoi man, buu mie sedap pake telur satu lagi”
kami berdua tertawa hehe.
Tak lama pak ton memanggil kami, Hussein
semakin panic wajahnya tegang dia tidak mau ngaku tapi aku tau. Pak ton
menyampaikan hasil keputusan dewan juri pada kami betapa terkejutnya teryata
aku dan Hussein hanya menjadi juara dua, Hussein terlihat tak bersemangat aku
pun demikian.
“kalian juara dua” kata pak ton
"iya pak allhamdulillah, aku dan Hussein akan
lebih giat lagi untuk kedepan. Iya kan sen?”
…
“sen?”
…
“hei mann??” aku menepuk ahu Hussein
“ o, o yoiii man’ Hussein melamun, aku
tertawa.
“tapi kalian akan tetap ke Jakarta, berdua”
lanjut pak ton.
“a apa, gimana pak?” Hussein.
“iya, selamat. Heheh”
“pak maksudnya gimana?”Tanya ku.
“provinsi akan mengirim juara 1 dan 2 karena
mereka merasa cerpen buatan kalian adalah terbaik hanya saja ada kesalahan dari
salah satu juri, nilai kalian hilang satu aspek penilaian dan tidak
memungkinkan untuk presentasi ulang, selamat ya”
Jujur aku tidak mengerti apa maksud pak ton
waktu itu, yang aku tahu kami berdua akan berangkat ke Jakarta dalam waktu
dekat.
“Sayap elang sudah di siapkan untuk
bertualang menuju pohon besar nun jauh di sana”
(bersambung)
Komentar
Posting Komentar