Hussein & Kacang Rebus #8

  

BIRU, “tak perlu banyak, yang penting menikmati, Tak perlu ramai yang penting ada rasa saling memiliki. rumah ku hanya tiga orang tapi rasanya tak ada sudut ruang yang kesepian”

(…)

“Assalammuallaikum, mak? ade pulang”

“waallaikumsallam (mak membuka pintu), kenapa mukamu de?”

“mukaku mak?” aku  segera berkaca

“bukan, mukamu kenapa nampak bahagia sekali?”

“aku selalu bahagia mak, tiap hari heheh”

“iya iya, sana masuk ganti bajumu”

“siap mak” aku bersemangat sekali hari itu.

“de, payung mana??” teriak mak.

“ada di bawah meja luar” aku membalas teriak mak.

Mak dan bapak belum tahu kalau aku akan ke Jakarta dalam waktu dekat, ini perjalanan terjauh pertamaku dan mungkin akan banyak pertanyaan dari mereka berdua.

Malam ini aku dan Hussein akan keluar, kami berdua sengaja bertemu, Hussein yang mengajak ku katanya malam ini perayaan atas tiket Jakarta, hehe. Entahlah apa yang  Hussein rencanakan, aku ikut saja sen.

“man, aku otw rumahmu”

“yo”

Kota kecil kami sangat ramai, tidak ada apa apanya jika dibanding kota Jakarta sih. Hussein mengajak ku berkeliling, ku pikir dia akan mengajak berkuliner atau sekedar duduk di kedai ternyata bukan, kami menuju sebuah tempat dipinggiran kota, disana ada banyak para pedagang kacang rebus, nenek – nenek atau ibu – ibu yang sambil menggendong anak, berjualan dari pagi hingga malam.

Aku sempat bertanya kenapa Hussein kenapa mengajak ku kesini, “kapan terakhir bersyukur man?” tanya Hussein pada ku. Aku tak tahu mau menjawab apa, sebenarnya aku tidak menghitung berapa kali dan kapan terakhir kali bersyukur.

“hei man, tidur? hehe, jadi aku sengaja ajak kamu kesini biar syukurnya bertambah, coba liat nenek itu” Hussein menunjuk seorang nenek tua yang terlihat menahan kantuk.

“iya Sen, aku lihat”

“mana enaknya, tidurmu atau nenek itu, makan malammu atau nenek itu?”

“allhamdulillah”

“lah, hehe auto bersyukur”

Yah begitulah pengajaran yang didapat dari nenek penjual kacang rebus, kami membeli kacang rebus nenek itu, ibu itu dan semuanya, ada banyak kacang.

Kami belum pulang setelah dari sana, Hussein mengajakku kesebuah panti asuhan, membawa banyak kacang rebus, ternyata Hussein memang sering mengunjungi panti asuhan ini, hanya sekedar berkunjung atau membawa makanan. Aku melihat begitu ceria nya mereka, anak-anak di panti asuhan itu, banyak teman, keluarga mereka menyebutnya. Menonton televisi sambil bergurau, menyenangkan. Aku Teringat mak dan bapak, mereka temanku dirumah, rebus singkong dan kopi pahit. Hanya bertiga aku merasa sangat ramai, tawa mak, bapak dan aku sudah  bisa memenuhi rumah apalagi jika sebanyak ini.

“Sen, kita pulang?”

“oh iya, sebentar” Hussein tampak menutupi mata dengan lengannya.

“kenapa Sen, masih mau nonton televisi?” saat itu ada sinetron disalah satu stasiun TV tengah berlangsung, hehehe aku tertawa.

“ngga man, hehe” mata Hussein terlihat merah.

“Sen, ada apa?”

“udah, pulang sekarang man?”

Kami bergegas pulang, aku masih merasa aneh dan seperti ada yang salah dengan Hussein. “Sen?” Hussein tampak memikirkan sesuatu. “kalau kau mau, bisa cerita Sen, itupun kalau yang kau Pikirkan masih wajar aku ketahui” , “ iya man, aman aku baik-baik saja, hehe”. "Mantap Sen" timbalku.

“man?”

“iya Sen?”

Parah Hussein menangis, kalau saja aku sempat memvideokan sudah ku tunjukkan di bagian ini. Hehe.

Hussein menangis, ku tahu sebab dia menangis sambil bercerita, tidak menangis keras cuma kalian mungkin tahu bagaimana saat orang bercerita sambil menahan tangis begitulah Hussein waktu itu.

“aku sampai tidak tahu harus bersyukur karena apa, tapi hari ini aku bisa tahu satu alasan untuk bersyukur, man, yaitu karena aku bisa bercerita tentang ini hari ini. Kau tahu?”

“ngga Sen” jawabku.

“tunggu aku belum cerita” kami tertawa, heheh.

“ini bukan kali pertama aku begini man, setiap pulang dari kacang rebus dan panti aku pasti begini, aku merasa semua orang beruntung daripadaku, tapi itu salah kan man?”

“iya salah Sen, kita punya banyak alasan untuk bersyukur. Sebenarnya”

“iya man, thanks ya”

“yoi santeee”

(…)

Kami tiba dirumah, “okey man, aku langsung pulang”, “ga masuk dulu sen?”

Hussein bersiap pulang, dan hujan sudah siap pula, heheh. Akhirnya...

“hati – hati Sen” hahahahahahah aku tertawa terbahak bahak.

Hussein hanya terdiam aku tertawa tak henti- henti.

“kalau kamu ga keberatan, nginap saja Sen” aku masih tertawa.

Akhirnya Hussein bermalam dirumahku untuk pertama kali. Ia sudah sangat akrab dengan mak dan bapak, Hussein memang mudah bergaul kepada sebaya atau yang lebih tua, dia bisa beradapatsi dengan semua hal, menyesuaikan pembicaraan pada lawan bicaranya, kalian ingat kan, persahabatan kami berawal dari SKSD Hussein, dia akan marah membaca ini :D

“makan malam sudah siap”teriak mak, menerobos pintu kamarku.

yah mak – mak selalu menganggap anak – anaknya adalah bayi, hehe. “Mak anakmu ini punya privasi lo, ya tuhan”

“man, makan malam?”

“oke mak, aku dan Hussein segera menuju meja makan” aku mengacungkan jempol pada mak.

“ditungguuu” kata mak..

Hussein bingung, ntah kenapa “woii man, makan malam apa ini? liat jam”

“22.00” aku tertawa.

“emang dirumahmu, makan malamnya jam segini man?”

“sebenarnya ngga man, mungkin karena ada tamu kehormatan”

“maksudnya aku?”

“mungkin hahah”

“jadi ga enak man akunya”

“udah, ayok mak sama bapak nungguin”

Kami menuju meja makan, makku memang luar biasa hehe, nampak bapakku beberapa kali menguam karena kantuk.

“eh malu lo pak ada temen Rimba liat, Hussei, angsung duduk aja nak” kata mak.

“iya bu, jadi ga enak hussein”

“santai, anggap rumahmu saja, dan mak sama bapak Hussein anggap orang tua aja”

“la emang udah tua Mi (Mi panggilan bapak untuk mak, itu potongan nama mak)” kata bapak.

“ apa sih bapak ah”

Kami semua tertawa.

Hussein emang paling suka makan mie, pokoknya semua mie adalah sedaap dan enakk, kata Hussein. Obrolan hangat malam itu, kami larut dalam tawa.

Rasaku berwarna cerah, seterang kelap kelip bintang yang kau pandangi tadi malam. Tidak ada bintang yang kau lihat? Arahkan wajahmu ke atas dan tutup mata, lalu tersenyum dan nikmati.

#8

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELANGIrasa #1

SYUKUR & TERKABUL #7