AWAL JUMPA #5
KUNING, semua yang telah memutuskan pergi tanpa
mengabari adalah keterpaksaan dan itu adalah rasa yang paling menyulitkan.
Beberapa hati tak sanggup, hanya pemilik yang kuat yang tak tumbang di saat
demikian.
(…) aku berpegang dipagar berkarat itu, menarik leherku melihat keadaan didalam,
pintu rumah ay terbuka tak ada gongongan piok yang ada hanya tangisan anak
kecil dari dalam rumah.
“permisi, om, tante? Ini aku rimba”
(tak ada jawab)
“permisi”
“iyaa, waallaikumsallam, sebentar” jawab dari dalam rumah.
Aku kebingungan mendengar jawaban dari dalam rumah, keluarga ay tidak
menggunakan jawaban itu, seperti ada yang aneh. Fikir ku, Tiba – tiba keluar seorang perempuan
berkerudung dari dalam rumah.
“iya , ada perlu apa?” Tanya perempuan itu.
“(aku terdiam), ibu siapa?,
bukannya ini ru,”
“oh iya, ini rumah baru kami tempati, kemarin
malam kami tiba disini. Ada apa?”
“ga
kenapa – kenapa bu, permisi” aku lalu meninggalkan rumah itu.
Ternyata bukan ay dan keluarganya yang kembali kerumah tapi pemilik baru
rumah itu. Aku pulang.
“rimba tadi ada temanmu kerumah,
dia bilang untuk menemuinya besok pagi setelah pulang sekolah”
“teman? Siapa mak?”
“Hosen, iya namanya hosen kalau mak tidak
salah”
“hosen? Tidak ada nama hosen dikelas ku yang
ada Hussein”
“iya itu maksud mak, mau hosen,hisen,huesin
apalah itu mak ga tau”
Hussein adalah teman kelas ku,
satu satunya anak kelas yang sering ku ajak berdiskusi, yah hanya sesekali.
“oh iya bapak mana mak?”
“bapak mu pergi, katanya mau ke konter”
“kenapa bapak kekonter?”
“assallammuallaikum, nah pas Rimba udah
pulang”. bapak, membawa sebuah
kotak kecil.
“waallaikumsallam, kenapa pak”
“ini, coba kau liat” bapak memberikan kotak itu padaku.
Ternyata bapak membelikan aku hp, aku senang sekali sebab ini pertama
kali bapak membelikan sesuatu pada ku tanpa ku minta.
“wih,
bapak tumben hehe”
“ibumu yang menyuruh bapak, awalnya hp butut
punya bapak yang mau bapak kasih ke kamu hehe”
“Ternyata bapak masih bapakku yang dulu”
hehehe, kami tertawa.
Selepas sekolah aku menemui Husein yang hari hari tampak sangat sibuk,
dia bolak balik menemui guru di kantor dan bergabung dikelas.
“sen?, kau kerumah ku kemarin sore”
“oh iya rimba
bener, ayuk ikut”.
Hussein mengajak ku pergi ke suatu tempat.
“ngapain kamu ngajak kesini sen? Ini rumah
pak ton kan?”
“yah emang bener, yuk masuk” Hussein menarik ku.
“ini rimba pak, dia bilang ke saya kalau dia
mau dan dia memang dari dulu senang menulis. Iya kan rimba?
“eh ngga pak,”
“rimba nanya kesaya kapan seleksi nya pak?”
“oh iya rimba, ini kamu baca baik baik panduan kompetisi menulis cerpen tingkat
nasional yang akan diadakan dua minggu lagi, bapak harap kamu bisa membawa nama
sekolah dengan baik, dan Hussein adalah rekan yang akan membantu kamu,intinya
kalian adalah tim. Ada pertanyaan?
“ tapi pak saya ngga,’
“ siap pak, siap laksanakan ayok rimba.
Permisi pak” Hussein
menarik ku pergi.
“maksud mu apaan sen?, aku bahkan ga tau apa
apa masalah ini, lomba apaan?
“udah, gini simplenya kamu sama aku bakal
ngewakilin sekolah buat ikut lomba nulis cerpen minggu depan, kalo menang kita
bakal jalan jalan ke Jakarta”
‘jalan
– jalan?’
“iya rimba, kalau kita menang nanti tingkat
nasionalnya diadakan di Jakarta”
“ga ngerti lah, aneh kamu sen”. Aku pergi meninggalkan Hussein.
Aku berjalan menuju danau, tempat terakhir aku dan ay bertemu 5 tahun
yang lalu. Ini kali pertamanya lagi aku ketempat ini, Aku memandangi danau yang
masih hijau, karena ganggang mungkin.
seringnya sebagian orang, termasuk kalian akan berfikir “tidak mungkin merasa kehilangan selama ini”, lima tahun masih memikirkan orang yang sama,
masih resah karena rasa yang seharusnya sudah hambar, tapi inilah aku, aku tak
tahu ini bodoh atau karena aku sangat mencintainya, aku masih menyimpan hadiah
itu untuk ay.
Aku berdoa kepada-Nya di masjid lima tahun yang lalu saat ay berjanji
menunggu ku dipinggiran danau, doa ku masih sama “agar bisa melihat orang –
orang yang ku cintai hari ini, esok dan lusa. Selamanya. Termasuk melihat ay.
Aku masih berharap.
(“)
“de tadi ada seorang gadis menelpon di nomer
bapakmu, katanya teman lama mu”
“(aku menganga)”
‘hei, ada seorang gadis menelpon ke nomer
bapak mu dia bilang adalah teman lama mu, kau dengar mak tidak?”
Aku bergegas mencari bapak “dimana bapak
mak?, bapak dimana kau? (aku
mencari dari ruang tamu hingga dapur, membuka pintu kamar satu demi satu) mak, mana bapak?”
Mak aneh melihat tingkah ku, “de?
Kamu kenapa? Bapak mu di rumah paman jaya mengembalikan CD” bapak memang
sering meminjam koleksi CD paman jaya.
Aku berlari menyusul bapak, “pak?
Bapak mana hp mu”
Bapak tengah bergurau bersama paman jaya, “aku tak sadar ternyata Rimba sudah besar, hei mad anak mu ini mau kau
ikutkan tes TNI tidak, tingginya cukup Cuma masih sering bermain dengan
perempuan tidak? Hhahaa” paman jaya bergurau demikian.
“iya paman sudah besar, tidak. Aku tidak akan
ikut tes TNI , bapak juga tidak punya cukup uang tidak seperti paman. Oh iya
mana banyu? Ku dengar dia di keluarkan dari sekolah, mungkin karena temannya
laki laki semua paman, yah laki laki bandel maksud ku”. Paman jaya terdiam, Mata ku berkaca – kaca waktu
itu aku merasa legah dengan jawabanku.
banyu anak paman jaya, bersekolah di sekolah
favorit di kota sedangkan aku hanya di kabupaten. Sayangnya kafli harus
berhenti paksa sekolah karena ikut tawuran antar sekolah.
“oh iya jaya, aku tidak akan mengikutkan
Rimba untuk test TNI, hahah” Bapak kembali melarutkan suasana, paman jaya tampak masih terdiam.
Mungkin jawaban ku sedikit menyinggung hatinya.
“ada apa mencari bapak?” Tanya bapak pada ku.
“‘tidak pak, aku akan menunggu sampai bapak
pulang saja, permisi paman jaya” aku kembali kerumah.
(“)
“Rimba, tak semestinya kamu berkata seperti
tadi ke paman jaya” marah bapak
kepadaku.
“ada apa pak?, rimba berkata apa ke paman
jaya de?”
“bapak memang tak pernah memikirkan perasaan
rimba bu, bapak hanya perduli dengan perasaan orang lain saja”
“bukan begitu, kamu tidak seharusnya membahas
masalah banyu kepada paman jaya, pamanmu sudah cukup pusing tentang hal itu”
(permisi) suara dari depan rumah, mak membukakan pintu.
Aku tak berani menjawab bapak, aku hanya terdiam duduk.
“sudahlah pak, mungkin ada hal yang membuat
rimba begitu. de Hussein mencari mu, dia menunggu diluar”
Aku beranjak dari tempat duduk dan menemui Hussein.
“ayok ikut aku” ajak Hussein.
Hussein mengajak ku kesebuah tempat, dia menyebutnya puncak inpirasi.
Perlu waktu 15 menit untuk sampai kesana dengan sepeda motor, dan Aku tak
perduli kemana Hussein akan mengajak ku waktu itu karena perkataan bapak
tentang paman jaya membuat ku merasa bersalah.
“ oi man, mau berapa lama diatas motor? Ayok
turun” ternyata kami sudah
tiba di Puncak insipasi yang dimaksud Hussein.
Aku sangat terkejut, gilaa aku baru tau ada tempat seindah ini, mungkin karena aku tak pernah berpergian jauh.
Sebelumnya riwayat pengembaraan ku hanya rumah-sekolah-rumah. Aku sempat
berfikir jika aku adalah makhluk semi sosial, heheh.
“kenapa kau mengajak ku sini sen?”
“lupa? Kita ada projek besar rimba, kita
harus ke Jakarta dan waktu yang kita punya hanya 10 hari lagi. Dan aku mau
melihat konsep yang sudah kau siapkan untuk cerpen kita” Hussein mengulurkan tangannya, memintak
konsep cerpen dariku.
“konsep? Aku sama sekali tidak memikirkan hal
itu” aku terkejut, Hussein benar- benar serius
tentang lomba cerpen itu.
“sudah ku duga, hari ini kita akan menentukan
konsepnya. Di sini!”
Bukanlah hal yang mudah menentukan konsep dan mematangkannya dalam
jangka waktu kurang dari sehari, aku berfikir keras. Aku mendekat kepinggiran
puncak itu memandang dari ketinggian, disana terlihat semua bagian kota
termasuk sekolah ku, smp 37 tempat aku bertemu dengannya, saat dia menangis
lalu tersenyum kepadaku. Ah Hussein hanya membuat ku mengenang semua dengan
mengajak ketempat seperti ini.
“sen?, ayok pulang”
“pulang? kita bahkan belum menemukan satu hal
untuk konsep cerita kita”
“aku harus pulan sen”
“okey man, kita pulang tapi besok aku akan
kerumahmu dan konsep sudah harus ada”
Aku menganggukan kepala, tak tau akan menemukan konep atau tidak untuk
cerita kami.
Kami meninggalkn puncak inspirasi Hussein.
“makasih ya sen”
“oke man, besok aku kerumah mu”
(“)
“assallammuallaikum, aku pulang mak”
“waallaikumsallam, de bapak memanggilmu ia
dibelakang temui sekarang”
Kenapa bapak memanggilku, aku merasa takut apa mungkin bapak akan
memarahiku lagi.
“iya pak? Ada apa memanggilku?” aku bertanya kepada bapak dengan gugup.
“bapak tau, selama ini bapak terlalu
memikirkan perasaan orang lain tanpa perduli dengan perasaanmu dan ibumu. Bapak
mintak maaf” bapak
memeluk ku, rasaku sangatlah bahagia, ini adalah moment langka dan ini kali
pertama bapak begini kepada ku.
“pak, rimba mak sudah menyiapkan rebus
singkong dan kopi hangat” mak ku
memang mak terbaik, ia tau saja harus apa dimoment apa. Kami makan singkong
rebus dan minum kopi hangat.
“oh iya tadi ada seorang gadis menelpon bapak
katanya teman lama mu, bapak lupa nanya namanya”
“eh iya, itu pak rimba menyusul bapak ke
rumah jaya Karena gadis itu, kelihatannya ada yang lain dengan anak kita”
“eh eh eh, rimba siapa gadis itu?” Tanya abapak.
“ngga ada apa apa pak, mak dia temen rimba
kan rimba banyak temen perempuan dari kecil”
Suasana kembali tegang, mak dan bapak hanya diam.
“rimba hanya bercanda, heheh” kami semua tertawa hheehe.
Aku mengambil hp bapak, kulihat ada dua nomer baru yang masuk.
“pak? Nomer mana yang menelpon bapak?”
“yang mana?”
“yang seorang gadis”
“oh yang paling atas”
“siap”
“heheheh” mak dan bapak kembali tertawa.
Aku menulis ulang nomer itu ke hp milikku, aku berharap ini benar adalah
ay.
(aku menelpon nomer itu)
“suara menyambungkan”
“tut tut tut”
Beberapa kali panggilan ku di tolak. Aku mencoba menelpon beberapa kali
lagi dan tetap saja panggilan ku ditolak, ku coba lagi,
“nomer yang anda tujuh sedang tidak dapat
menerima panggilan anda” (suara
perempuan yang menjawab telpon ku, itu adalah operator)
“sudah dihubungi?” Tanya mak.
“sudah” jawab ku tak bersemangat.
“siapa dia?, benar gadis yang kau tunggu?”
“dia menolak telpon ku”
Mak dan bapak tertawa, “coba kau
lihat jam, 17:50 di jam segini beberapa orang tengah sibuk seperti kita tengah
sibuk menikmati singkong dan kopi” kata mak kepada ku.
(“)
Setelah selesai sholat magrib aku
biasanya membaca al quran, setelah itu hanya sekedar melihat bintang dari jendela, aku suka komik tapi
bukan komik dewasa heheh. Aku sangat jarang bermain gadget, teman ku adalah komik – komik live revolution,
nobblesse,girls of the wild,god of highschool,dracko diary,
ocong,superman,batman,conan,naruto,one piece,black clover,orange marmeled, dan
lain lain, genre komiknya random asalkan komik pasti ku baca. Heheh
Malam itu aku tengah asik sekali membaca komik sampai dua kali dering hp
berbunyi aku tak mendengar, saat ku membuka hp sudah ada dua panggilan tak
terjawab dari nomer yang ku ambil dari hp bapak. Aku panik, kucoba menenangkan
diri, ku tarik nafas dalam – dalam.
Aku telpon balik nomer itu,
“Hallo?”
Gilaa, dadaku berdebar tak karuan beberapa detik nafasku rasanya terhenti,
ini rasa lima tahun yang lalu. (menulis ini aku gemetar dan nafasku tak
teratur, bukan sesak tapi terpatah patah
nafasku).
“Hallo?” dua kali suara
itu, aku benar – benar tak mampu membalas.
“Hallo? Maaf tadi sore saya tidak bisa
menerima panggilan anda”
…
“Hallo?” aku membalasnya.
Tak ada suara, semua hening. Aku tak tahu kenapa mendadak diantara kami
terdiam tidak ada yang membalas.
“ini Rim?,” .
“iya aku tahu. Benar ini Ay” (ay menangis).
Aku mendengar suara tangis dari dalam telepon, membuat ku ta mampu
menahan air mata juga.
“ay?”
“rainboo?”
Aku tak sanggup, aku tak tahu harus bahagia atau marah. Aku bahagia bisa
ku dengar lagi panggilan itu, dan aku marah mengapa dia meninggalkan ku lima
tahun yang lalu.
“kamu baik – baik saja kan? Tanya ia kepada ku.
“a aku baik ay”
“aku tadi menelpon mu, kenapa bukan kamu yang
menjawab?, kamu tidak mencariku? Aku menunggumu dirumah.”
“kenapa kamu bohong? kamu bohong akan
menunggu ku di danau, kau tidak menunggu ku sebelum kau pergi lama, kau tidak
mengabari ku, kenapa ay?
“rainboo. aku ingin menunggumu, aku ingin
mengabari, aku ingin tetap tinggal, aku ingin tetap bermain denganmu.”
“lalu
kenapa tidak ay?”
“ada hal yang memaksa ku untuk tidak”
“aku mencoba mengerti ay.
bagaimana kabar orang tuamu?”
“mereka baik rainboo, mereka selalu
menanyakan kabar mu, aku berbohong tentangmu kepada ayah dan ibu”.
“kenapa kau tidak mengabari ku ay, lima tahun
yang lalu mengapa baru sekarang ay?”
“aku mau mengabarimu rainboo, namun ku takut
kau marah”.
Aku tau ay berbohong kala itu, tidak mungkin alasannya tak mengabari ku
adalah karena takut aku marah.
“iya ay”
“ranboo jaga baik – baik ya, hehe”
“iyaa, aku jaga baik – baik”
“kau
sudah baca semua?”
“iya, sampai dengan puisi milik mu sudah
kubaca”
“ha, Puisi? Astaga jadi kau baca?”
“iya ay, bagus puisi mu aku baca berulang –
ulang kali. Hehe”
Andai ay tau, aku sangat berharap puisi itu adalah untuk ku.
Tak terasa sudah berjam jam (2
jam 57 menit) kami berbincang dan tak pernah habis cerita yang akan dibahas.
“ eh rainboo, buku itu sampulnya sangat
berbeda dari buku lain dan itu sepertinya satu satunya di dunia, aku mau kau
menjaganya baik baik. Awas ya kalau rusak atau hilang, kalau iya, aku akan
memberimu tiga mangkuk tumis sayur masakan ibu”
Aku terdiam,
“ay?
Bukunya,”
“iya aku tidak akan mengambilnya darimu, aku
cuman mau kau menjaganya seperti aku menjaga buku itu.”
“tapi bukunya ru,”
“maaf rainboo, kayaknya aku harus tidur. Aku akan menghubungi mu besok,
save nomer ku yaJ”
“e e, iya ay”
“malam reinboo”
“iya
ay, malam”
Apa yang harus ku katakan pada ay tentang sampul buku itu, sampulnya kan
sudah rusak karena hujan.
Ay maafkan akuJ…
Warna Rasa yang hilang, kini mulai ku rasai lagi.
Bersambung…
#5
Saat membacanya terasa feelnya
BalasHapusterima kasih kak, saya sangat senang jika kakak berkenan berkunjung kembali:)
BalasHapusNgerasa jadi tokoh hehe
BalasHapusRimba dan ay, adalah sosok yang mewakili beberapa rasa seseorang termasuk kakak, hehe. terima kasih kak
Hapus