Mawar ini untuk Ay" #3
KUNING, tak ada Rainboo, minggu siang, film dan
ensiklopedia.
(…) Selesai sholat, aku berdoa kepada-Nya
agar bisa melihat orang – orang yang ku cintai hari ini, esok dan lusa.
Selamanya. Termasuk melihat ay.
Aku berlari dari masjid menuju danau untuk
menemui ay yang menunggu ku disana, dari kejauhan aku tak melihat ay, ah
mungkin saja ia bersembunyi karena ingin mengkagetkan ku, begitu fikir ku.
“ay?, aku sudah tau rencanamu” aku memanggil ay dengan sesekali tertawa, “ iya iya, aku pura pura terkejut ya,
hitungan ke 3 kau keluar” aku menghitung hingga 3, namun setelah kusebut 3
ay benar benar tidak muncul, aku mulai panik dan menatapi sekeliling danau,
fikiran ku begitu buruk, aku mengira ay
terjatuh ke danau, aku bertanya kepada bapak bapak yang tengah asik memancing
disana “pak, permisi”, “iya bagaimana
de?” ramah bapak kepadaku, “bapak ada
melihat teman saya yang duduk di sana pak?”, “oh perempuan dengan tas warna
biru muda, rambutnya segini?” rambut ay terurai panjang dan benar ay yang
di sebutkan bapak itu, “iya pak dia teman
saya, apa bapak liat?”, “iya de, tadi bapak liat dia pergi naik mobil ada orang
dewasa yang menjemputnya, bapak fikir itu orang tuanya”.
aku
berlari menuju tempat ay menunggu, rupanya ay meninggalkan sebuah buku dengan
sampul batik berwarna dominan merah, kulit sampulnya tebal.
Sampul yang rusak karena basah.
tak
berfikir akan membuka buku itu, aku
memasukkannya kedalam tas dan menuju rumah ay, aku berlari dan terpaksa harus
berteduh karena hujan. Hujan cukup lebat aku berteduh sebab buku didalam tas
harus tetap kering, hampir satu jam sudah aku menunggu hujan redah dan
tampaknya tidak ada pilihan lain kecuai menerobos pagar air yag begitu rapat,
aku berlari sekuat tenaga ku dan basah ta bisa ku elak semua baju ku basah tak
terkecuali buku buku didalam tas, aku tak menghiraukan.
Hanya satu belokan lagi tepat disana rumah
ay, aku akan marah besar kepadanya karena telah meninggalkan ku dan berbohong
bahwa ia akan menungguku, aku menyiapkan semua kekesalanku yang akan ku sampaikan
kepadanya.
“permisi,,
om? Tante?” aku berteriak didepan
pagar rumah ay, tak biasanya rumah ay tertutup pintu depannya, “om, tante??ay nya sudah pulang?, dia
meninggalkan ku dan diam diam pulang”,
tidak ada sautan dari dalam rumah, hanya ada gonggongan piok anjing kesayangan
ay. Setelah lama, “ah mungkin ay sedang
pergi bersama keluarganya” ku coba menenangkan diri.
Semua basah, aku pulang. Rasa ku saat itu
adalah takut, marah, sedih, menyesal, sangat berwarna.
Dirumah aku tak bersemangat mengetuk pintu, “mak (lesu aku memanggil mak) buka pintu”, “kebiasaan, kesayangan mak yang satu ini, Ga
salam ga ada buka pintu ya de !” mak memang tidak tahu rasa apa yang tengah
ku temui hari ini, “iyaa,
assallammuallaikum, mak buka pintu ade pulang” aku memberikan password
untuk membuka pintu, “waallaikumsallam,
iya sebentar” mak membuka pintu, “rimbaa!
Kenapa basah semua?, payung ga dibawa pasti, ya allah tas mu basa juga ganti
baju sana”,mak ku bergumal banyak sekali, aku bergegas masuk “aku ga bakal bawa itu payung sebelum diganti warna!” teriak ku
sambil berlari menuju kamar mandi.
payung
itu warnanya merah jambu.
Rasanya aku sakit setelah diguyur hujan itu,
aku mengeluarkan buku dari dalam tas, “mawar
untuk ay lupa kuberikan, besok akan kuantarkan”.
“de makan” panggil ibu.
Dua hari aku izin dari sekolah karena sakit,
ay tidak ada berkunjung menjenguk dan bunga mawar untuk ay yang telah ku
siapkan sengaja ku simpan didalam buku
yang ku temui dipinggir danau.
Setelah badan ku sudah membaik aku kembali
masuk sekolah, berharap mawar ini akan kuberikan kepada ay sepulang sekolah.
(kring kring) bell pulang, aku menunggu dari depan pintu kelas ay sebab selama
istirahat aku hanya duduk dikelas karena belum terlalu normal setelah dua hari
sakit, ay pun tak ada mencariku di kelas, dia memang gadis yang sedikit pemalu.
Aku menunggu sampai dengan kelasnya berakhir, teman temannya keluar tapi dimana
ay, aku tak melihat ay di kelas. “hei,
dimana ay?” aku bertanya pada salah satu teman ay “dia sudah tidak masuk sejak dua hari yang lalu” jawab teman ay.
aku Bergegas menuju rumah ay.
“permisi,
om, tante?”, ay? Ini aku rimba” tak ada jawaban dari dalam rumah,
pagar terkunci, piok pun tidak terlihat di tempat biasanya.
“ay??
Ini aku rimba, kau pasti ada didalam kan, ay?? Om, tante?” aku benar – benar menangis, tidak mungkin ay
pergi selama ini jika hanya untuk berkunjung kerumah keluarganya. Aku mencoba
menanyakan ke tetangga ay, mereka pun tak ada yang tau, aku hanya mendapat
informasi jika keluarga ay pergi dihari
dimana ay meninggalkan ku di danau. Rasaku benar- benar kacau, warnanya
bercampur tak menentu, kecewa ku teramat serius, ay adalah sahabat sekaligus
gadis yang telah mendebarkan hatiku.
Minggu siangku, hanya dirumah.
Tak ada panggilan rainboo.
Tak ada menonton film dan ensiklopedia.
Tak ada ay, hanya rimba.
Setiap hari sepulang sekolah aku sengaja
berjalan lebih jauh agar bisa melewati gang rumah ay dan mengharap pagar itu
terbuka.
Semingu sudah pagar itu terkunci, ay tak ada
mengirimkan pesan di facebook atau sekedar mengirikan sms ke nomer bapak yang
pernah ku berikan kepadanya. Sudah lama sekali ku menunggu kabar darinya.
Berbulan bulan, sampai dengan lulus smp aku masih menunggu kabar dari ay, nomer
bapak sengaja tak pernah alfa bapak isi pulsa jika sudah masa tenggang agar ay
bisa menghubungiku ketika ia sempat.
2018
kelas dua sma, aku tumbuh sebagai remaja dengan koleksi warna rasa yang
begitu banyak, namun satu rasa yang belum kutemu kembali, dada berdebar, rasa
cinta. mawar yang telah ku siapkan sebagai hadiah ulang tahunnya, masih ku
simpan didalam buku yang ay tinggal bersama ku di tepi danau.
Mawar
ini untuk ay.
…(Bersambung)…
#3
Komentar
Posting Komentar