Mumi Mawar #4
KUNING, Mumi mawar.
Merah,
indah, wangi hadiah dariku untuk ay yang belum sempat ku berikan. Aku menjalani
hari dengan satu warna rasa yang telah pergi, rasa cinta dan debar dada, namun
aku adalah pesandiwara profesional sejak 11 tahun yang lalu, awalnya memaksa
diri sampai dengan menerima, menerima jika yang datang takkan abadi. Aku belum
benar – benar untuk itu.
“Rimba?” panggil mak, “iya mak?” aku menjawab panggil mak sembari berjalan menuju nya, “dighi manggilku? Pasti ndak ngajung sesuatu
(mak memanggilku? Pasti mau nyuruh
sesuatu) jawab ku dengan sedikit tawa aku tak bisa berkata dengan nada
tinggi kepada mak, aku sangat menyayanginya. “eh, siapa yang mau nyuruh kamu de, mak Cuma mau minta saran”, “saran
apa mak?” “ ini lo bapak mu minta
dibelikan sepatu baru untuk kerja, itu sepatu lama katanya udah ga kece, ah
bapak mu memang begitu de sok ganteng, hhe” kami tertawa bersama di sofa
ruang tamu, “mak?”, “iya?” jawab mak,
sambil memilihkan sepatu untuk bapak di selebaran yang ia dapat dari reseller
sepatu grosir bandung, tetangga kami bu sus namanya, “mak, rimba mau Tanya.”, ‘tanya apa de?”, “mak pernah berdebar kalau
ketemu seseorang?” tanyaku dengan sedikit malu, hehe. “pernah” jawab mak, “kapan
mak? Siapa orangnya, bapak ya mak?” ,”setiap hari malah, bapak? Kenapa mak
berdebar liat bapakmu?” jawab mak kepada ku, “la terus mak berdebar melihat siapa?” aku curiga, mak jatuh cinta
selain ke bapak, huft. “mak berdebar tiap
kali melihat jon”. “jon? jon tempat
koperasi mak pinjam itu?”, mak tertawa dan aku ikut tertawa, ternyata mak
berdebar melihat jon karena akan ditagih hutang pinjaman koperasi. Hehe.
“emang kenapa nanya begitu de?” “ngga
, nanya aja mak. Hehe” jawab ku malu “oh
anak mak jatuh cinta ya?” mak menyudutkan ku sambil bercanda,aku hanya diam
dan tak tau akan menjawab apa. “mak
pernah berdebar melihat bapakmu de” mak mulai bercerita “dulu waktu mak ketemu bapakmu, mak malah
belum teratrik dengannya sebab bapak mu itu nakal sekali, ia sering mengganggu
mak di sekolah atau di uar sekolah. Dulu pernah waktu mak sama teman teman mak
lagi kumpul tiba tiba bapakmu datang terus menendang kaki mak lalu pergi,
pokoknya mak paling ga suka kalau bapak mu itu datang kalau dia datang mak
langsung pergi, karena malas diganggu” , mak cerita sambil kebawa peran,
hehe. Mak sambil marah marah waktu itu, “trus
gimana bisa nikah kalau bapak ganggu mak terus?”, “yah sabar dulu, hehe. Suatu
hari waktu itu pas mak nangis, sedih pokoknya karena harus berhenti sekolah
sebab suatu hal, mak selalu pergi ke suatu tempat, masa itu kakek nenek mu
punya sawah dan mak dari pagi hingga sore pasti disana, ternyata bapak mu
nyariin yah mungkin karena ga ada orang yang mau digangguin sampe nanya ke
kakekmu trus suatu hari dia sengaja ga masuk sekolah dan nemuin mak di sawah”,
“itu pas mak kelas berapa?” aku memotong cerita mak. “oh itu pas smp, mak ga sempat naik ke kelas dua smp karena harus
berhenti sekolah, oh iya pas bapak mu menemui mak di sawah itu dia bawain mak setumpuk buku
buat belajar, itu pertama kali mak berdebar melihat bapakmu” mak tersenyum
kala itu, “udah ah, ade aneh aneh nanya
berdebar segala, tugas sekolah mu selesaiin” mak menghentikan cerita, “kenapa sekarang berdebar nya hilang?”
aku bertanya ke mak. ”ketika kita menyimpan sesuatu untuk di ungkapkan namun, belum
sempat mengungkap itulah yang menyebabkan berdebar, oh iya ini yang mana sepatu cocok buat bapak
mu de” aku terdiam dan pergi
meninggalkan ”yang cokelat saja mak” aku berteriak sambil berlari meninggalkan
mak.
Di warnet tak jauh dari rumahku, aku membuka
facebook ku dan mencari tahu dimana ay berada, dengan melihat akun facebook
miliknya berharap ada foto foto yang dia unggah, ini ku lakukan sejak dulu
menggunakan hp bapak namun, unggahan ay tidak ada yang baru setelah terakhir
mengunggah sebuah tulisan “boas dan ruth,
rasa tetap abadi meski separuh dan
separuhnya telah terpisah” 2014.
“ay kamu dimana, aku masih tak bisa menerima meski selalu ku coba
paksa, rasa sedih karena mu tak enggan bersahabat dengan hatiku, warna pekatnya
tak kunjung pudar. Aku hanya ingin mengungkapkan dan memberikan apa yg tak
sempat ku beri, hanya itu ay”.
tulis ku untuk ay yang ku kirim
di facebook milik nya, berharap suatu hari ay membuka dan membaca.
Aku kembali
kerumah, memilih jalan yang cukup jauh untuk kembali kerumah hanya karena ingin
melihat pagar rumah ay terbuka. lima tahun bukan waktu yang sebentar, namun ay
tetap satu satunya gadis yang membuat ku berdebar ketika melihatnya. Aku hampir
menyerah mengharap bisa berjumpa dengan ay meski hanya untuk mengungkapkan rasa
dan memberikan mawar yang merah lima tahun yang lalu.
Aku berjalan, membungkuk menghitung langkah,
dahulu sering aku dan ay menghitung jumlah langkah dari sekolah hingga
rumahnya, dan yang salah atau keliru hitung akan menghabiskan semangkuk sayur
tumis buatan ibu ay, aku selalu tak ingin kalah supaya ay menghabiskan sayur
dari ibunya. kami memang tak suka sayur
namun adalah wajib makan sayur untuk ay dari ibunya.
Aku berjalan menoleh kearah rumah ay, betapa
bahagianya, dari kejauhan pagar rumah ay tampak terbuka, ada sebuah mobil putih
terparkir didepannya, itu bukan mobil ay, aku tak perduli aku berlari menuju
rumah ay, (bersambung).
#4
Aku mau ksih saran hehe🙏🙏
BalasHapusKalau bisa yang dialog percakapannya di bikin baris baru ajah, biar bisa lbih seru bcanya..
terima kasih kak:) untuk sambungan cerita nanti kami pastikan menggunakan saran dari kakak. kami berharap kakak berkenan berkunjung untuk membaca lagi. sehat selalu kak:)
HapusSedihhh bacanya🥺
BalasHapushug virtual f u
HapusAhh perihal cinta dan mencintai memang selalu rumit
BalasHapusseharusnya memang rumit, agar lebih berwarna.
Hapuspelangirasa