PELANGIrasa #1

 

MERAH, sejak kecil aku lahir dengan hati yang peka, yah begitulah.

    sering bermain dengan rasa Namun, tumbuh di lingkungan yang acuh terhadap rasa.  rasa kesal, sedih,marah,minder dan semua rasa buruk yang ku hafal masa itu.

 Aku tak seindah tampilan anak lainnya, aku seorang anak laki - laki pengecut, lamban dan jarang diandalkan, sedikit bisanya. Aku tak pandai menendang bola, berenang, bermain kelereng, atau permainan anak laki laki lainnya, aku juga tak suka permainan anak perempuan tapi aku merasa lebih menikmati obrolan ketika  berdialog  dengan mereka.

Bapakku cukup keras di masa kecilku, mak ku sangat lembut, dan mungkin ia lah yang membentukku menjadi sangat lembut, hhe, mungkin.

Aku memiliki banyak teman, dan mereka seakan gembira sepanjang masa acap kali aku bersama mereka, aku pembagi tawa, katanya. Mereka semua  adalah perempuan.

“kalau aku  naik motor bersama Rimba, sepanjang jalan tak absent teriakan para gadis menyebut namanya, RIMBAAA, RIMBAAA” Bapakku bercerita dan menirukan teman temanku berteriak memanggilku ketika aku berbonceng bersama bapak dan berjumpa dengan mereka.

“hahaha, Rimba mungkin besar nanti akan menjadi anak perempuan,  kecil nya saja lembut lebih lagi dari anak gadis ku” Paman ku tertawa sambil bergurau demikian.

   Sayangnya, masa itu aku menganggap itu bukanlah sebuah candaan namun hinaan, tak jarang aku berlari dan mencari tempat pojokan untuk menangis, hehe itu cara ku mengungkapkan rasa, kala itu.

Disekolah, aku adalah anak yang cukup pandai  sering kali mewakili sekolah untuk sebuah perlombaan dan menjadi juara, aku adalah salah satu murid yang di senangi para guru namun di kucilkan daripada keluarga, itu anggapan ku kala itu  menurutku bercanda yang sebenarnya menghina adalah bentuk pengucilan dan itu sangat menguras rasa.

Di masa kecilku tak banyak orang tahu, aku sudah banyak belajar dari rasa yang terus menerus ku simpan dan dengan paksa kuterima,  menyimpan rasa sedih dan menerimanya. Di usia 8 tahun Aku mampu bersandiwara dengan sangat professional, tersenyum meski aku menangis di pojokan ketika julukan yang sebenarnya tak kusuka di berikan kepada ku, dan itu bertahun tahun lamanya.

Warna rasaku sedang tidak cerah dan tampak tidak baik – baik saja masa itu.

 

Hingga suatu saat, tangisan dipojokan karena rasa sedih itu membuatku bangkit, rasa sedih itu aku prementasikan  menjadi sebuah tekad yang kuat, aku menyebutnya rasa bangga yang ku persembahkan untuk diri sendiri, “aku tidak boleh mengabulkan semua hinaan paman, keluarga dan orang – orang itu”, dalam hatiku.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sedikit menambah air pada tinta warna gelap, makan akan sedikit terang terlihat. pelangirasa.

#1

Komentar

  1. Hal yg tak mudah, rasa yg begitu susah di jelaskan, waktu yg begitu singkat seakan seperti hukuman, tapi yakinlah penantian berharga akan indah jika tiba saatnya ❤

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hussein & Kacang Rebus #8

SYUKUR & TERKABUL #7